Senin, 02 Januari 2012

Walisongo dan pegon
Oleh Rangga Dusy
Huruf pegon adalah huruf dengan menggunakan aksara arab atau lebih tepatnya huruf yang dimodifikasi dengan ejaan Indonesia (jawi). Huruf pegon muncul sekitar tahun 1200 M / 1300 M bersamaan dengan masuknya ajaran islam di Indonesia.
Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli bisa dikatakan sangat mudah. Penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.
Dan menurut catatan lain, huruf pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Wallahu A’lam.
Huruf pegon terbentuk seiring pergantian masa kejayaan kepercayaan animisme, dinamisme, hindu dan budha. Dan juga terbentuk karena dikalangan pesantren membutuhkan formula bahasa yang dapat digunakan untuk mempermudah mempelajari kandungan al Quran Hadis yang berbahasa arab. Maka dari sinilah huruf pegon terbentuk.
Penamaan huruf pegon sangat banyak, di daerah Malaysia dinamakan huruf Jawi. Sedangkan dikalangan pesantren dinamai huruf arab pegon. Namun di kalangan yang lebih luas, huruf Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian selatan. Tak heran, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahsa yang berbeda.
Huruf Pegon berasal dari lafadz jawa pego, yang artinya menyimpang. Karena memang huruf ini menyimpang dari literatur arab juga dari literatur jawa. Bagi yang pernah nyantri tentunya faham dengan huruf pegon, huruf-huruf ini bisa dikatakan sebagai sebuah aksara nyleneh, karena tatanannya yang agak berbeda dengan bahasa aslinya (Arab bukan, Jawa juga bukan).
Sayangnya, huruf Arab pegon kini tak lagi dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, menurut sejarahnya, huruf Arab pegon telah digunakan secara luas oleh para penyiar agama Islam, ulama, penyair, sastrawan, pedagang, hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Peran penjajah juga mempengaruhi berkurangnya pemahaman huruf pegon. Karena pada masa penjajahan dalam pemerintahan bahasa yang digunakan adalah huruf latin. Sedangkan huruf pegon terisolir didunia pesantren.
Pergeseran penggunaan huruf Arab pegon bukan cuma pada huruf latin saja, namun hingga menjadi huruf Romawi. Hal ini dimulai saat Kemal Attaturk dari Turki menggulingkan kekuasaan Khalifah Utsmaniyah terakhir, Sultan Hamid II pada tahun 1924.
Kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada 1950-an memperkuat kedudukan huruf Romawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori dan mengompori penggunaan abjad Romawi. Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Rumawi.

Pakem Pegon
Dalam penulisan bahasa apapun tentu ada pakem atau gramatika tertentu yang menjadi acuan. Sebagaimana literatur bahasa arab yang mempunyai pakem bahasa disebut nahwu sharaf, begitupun dalam penulisan huruf pegon.
Secara tertulis, pakem asli dari huruf pegon belum pernah ditemukan. Namun, melihat dari bebarapa kitab klasik yang ditulis dengan menggunakan bahasa daerah, terdapat beberapa huruf yang semuanya hampir mirip dan perbedaannya hanya tertuju pada pembubuhan huruf vocal saja. Pakem dari huruf pegon adalah modifikasi huruf arab yang ditranslit masuk dalam huruf-huruf carakan (aksara jawa), dan bermetafora menyesuaikan diri dengan huruf abjad (hal ini diistilahkan dengan abajadun) dalam hal inilah (modifikasi dengan huruf abjad) yang banyak dipelajari hingga saat ini.
Berikut ini adalah tabel modifikasi huruf pegon dengan carakan (Hanacaraka):

Dalam tabel tersebut terdapat berbagai pembawuran (istilah pesantren untuk menilai pada perkara yang diplesetkan) huruf arab yang memang tidak sesuai literatur bahasa aslinya.
Itu bisa dilihat dari beberapa kaidah-kaidah dalam penulisannya. Seperti huruf (Ca) yang ditulis dengan menggunakan huruf arab (Jim) dengan titik tiga. Kemudian (Po) menggunakan huruf (Fa’) dengan tiga titik diatas. Aksara (Dha) menggunakan huruf (Dal) dengan tiga titik diatas. Aksara jawa (Nya) menggunakan huruf (Ya’) dengan tiga titik diatas. Serta aksara jawa (Nga) dengan menggunakan huruf arab (‘Ain) dengan tiga titik.
Huruf pada tabel diatas meruakan huruf mati semua (konsonan) sebelum dibubuhi huruf vocal. Sedangkan huruf vocal pada literartur arab hanya ada tiga, yaitu: alif, ya’ dan wawu (ا ي و ). Serta harakat fathah, dlomah, kasroh, pepet dan hamzah (hanya untuk alif).
Penggunaan huruf vocal dan beberapa harakat ini adalah untuk memudahkan dan juga menjauhkan kesalahan dalam pembacaan, hal ini karena dalam penulisan arab pegon atau huruf jawi banyak terjadi kesamaan.

Berikut adalah tabel modifikasi huruf hijaiyah dengan huruf latin atau lebih dikenal dengan istilah Abajadun:

Dalam tabel diatas terdapat sebuah simbol nomor yang tertera dalam masing-masing huruf, ini berguna untuk menghitung dalam almanak dan banyak terdapat pada kalender yang menyertakan almanak. Ini tidak berbeda jauh dalam beberapa huruf Romawi semisal huruf (X) untuk angka 10.
Hanya saja, sebenarnya dalam pembuatan huruf abajadun ini lebih banyak digunakan dalam ilmu hisab (hitung). Hal ini sesuai dengan sejarah dari huruf abajadun itu sendiri.
Ilmu menghitung aksara arab telah di kenal sejak masa kejayaan islam. ilmu tersebut , konon merupakan bagian proyek alih pengetahuan yang dihelat Dinasti Abbasiyyah dengan menerjemahkan buku – buku asing. Setelah melalui proses ” asimilasi” , ilmu itu di kembangkan oleh para ulama ahli hikmah, sebagai contohnya adalah Al Imam Abdul Abbas Ahmad bin Ali al Buni dengan kitabnya Syamsul Ma’arif dan Manba’u Ushulil Hikmah serta Al Imam Abu Hamid Muhammad al Ghazali dalam Al aufaq.
Ilmu hikmah adalah ilmu yang di turunkan oleh Allah khusus kepada Hurmus (tokoh yang hingga kini masih diperdebatkan). Hurmus itulah yang diberi kemampuan Allah bisa menerjemahkan nilai – nilai gaib menjadi kenyataan. Dan dari nama Hurmus itu terbentuk kata hermeneutic (upaya menafsirkan yang gaib menjadi kasat mata). Wallahu a’lam.
Di ambil dari : situs majalah misykat lirboyo

Kamis, 02 Desember 2010

pear...hmmm lezat sekali...

hmmmm....lezatnya buah kesukaanku...( pear )

Manusia sudah mengonsumsi buah pir sejak lama. Ada alasan mengapa buah pir disukai. Selain karena rasanya yang lezat, buah ini juga sangat bernutrisi.

Buah yang termasuk dalam keluarga buah apel ini lebih kaya serat ketimbang apel. Jika 1 buah apel mengandung 3 gram serat, pir mengandung 6 gram. Ini berarti 1 buah pir mengandung 20 persen asupan serat yang disarankan untuk dikonsumsi dalam sehari. Buah pir juga bebas dari lemak, bebas kolesterol, bebas sodium, dan kaya akan vitamin C, K, dan kromium.

Buah pir memiliki kadar indeks glikemik yang rendah dan hanya mengandung kalori sekitar 100 per buahnya. Artinya, buah ini baik untuk mereka yang memiliki penyakit diabetes dan hypoglycemics. Gula dari makanan yang kadar indeks glikemiknya rendah diserap tubuh secara perlahan, menjaga level gula darah stabil. Pir pun kaya akan pektin, serat diet yang mudah larut dan dipercaya mampu menurunkan kolesterol dan meregulasi gerakan usus besar. Karenanya, pir amat baik untuk mereka yang memiliki masalah konstipasi.

Manfaat terbesar buah pir terdapat pada kulitnya. Karena itu, sebaiknya tidak mengupas kulit pir jika Anda ingin mengonsumsinya. Kebanyakan serat yang terkandung di pir terdapat di kulitnya, termasuk quercetin, yakni zat antioksidan dan flavonoid yang memiliki efek antiradang. Meski zat tersebut tak sebanyak yang dimiliki apel dan bawang bombai, namun masih merupakan nutrien yang baik dari pir. Selain itu, buah pir juga memiliki folat, yang telah terbukti bisa mencegah cacat pada saraf bayi. Maka wanita yang hamil disarankan untuk mengonsumsi buah pir. Mereka yang memiliki masalah dengan alergi makanan amat disarankan untuk mengonsumsi buah pir karena aman dan tidak mencetuskan reaksi alergi. Pir juga disarankan sebagai buah pertama yang diberikan kepada anak-anak karena dinilai hipoalergenik.

Saat akan memilih buah pir, pilihlah yang tidak memar (biru karena terantuk), terpotong, sudah berwarna kecoklatan, atau pun yang terlihat masih muda. Pir yang sudah cukup matang akan terasa lembut ketika ditekan dengan jari. Jika Anda membeli buah pir dan baru akan mengonsumsinya beberapa hari setelah dibeli, pilihlah yang masih keras. Begitu pun jika Anda akan menggunakannya untuk dibuat bahan kue panggang. Buah pir yang sudah matang harus dikonsumsi dalam waktu sehari atau dua hari.

Biarkan buah pir matang dalam kondisi udara ruangan. Jika ingin membuatnya cepat matang, sandingkan dengan buah apel. Buah apel melepaskan gas etilen ke udara, yang membuat buah-buahan lain di sekitarnya matang lebih cepat. Untuk mendapatkan efek antioksidan terbaik, konsumsi pir ketika ia berada dalam kondisi paling matang. Karena kulitnya sangat tipis, berhati-hatilah jika akan membawa buah pir untuk dimakan di lain tempat.(kompas,Sabtu 211109)

Minggu, 28 November 2010

Posisi Sholat Berjamaah Kontroversial

Oleh : Muhammad Muallim Lc.(muallimku.blogspot.com)

Tulisan ini berawal dari kegelisahan saya, dan mungkin sebagai tanggungjawab saya atas beberapa pengetahuan yang saya pelajari. Saya begitu gelisah dengan saudara sesame muslim yang tidak teliti dalam menentukan sesuatu yang didasarkan pada hadith nabi tentang sholat berjamaah, khususnya jika hanya 2 orang laki-laki saja atau 2 orang perempuan saja.

Kronologi ini baru saya temukan tahun 2009, sebab di Mesir saya tak menemukan masalah itu, saya temukan pertama di sebuah mushalla salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya, dimana disitu di temple tata cara berjamaah, dengan mengutip perawi hadith dan nomor hadith, tanpa menyebutkan hadithnya.


Karena saya kaget, saya baca sampai tuntas, namun saya cari siapa yang menerbitkan tempelan itu, saya tak menemukan, ya sudah, saya catat semua nomor hadith dan perawinya, dan saya bawa pulang untuk diagnosa, ternyata hadithnya nggak sesuai, Ya Allah…kenapa masyarakat muslim Indonesia sudah seperti buih.

Kejadian kedua saya temukan di Musium seni rupa di Kawasan Kota Tua di Jakarta, ini bukan selebaran tapi kenyataan, saya piker mereka berdua adalah efek dari mereka yang menerbitkan selebaran tadi, alasan mereka dengan berbagai hadith dengan memaknai tanpa ilmu hadith yang seharusnya, aku jadi ingat pesan guruku “pada masamu banyak orang akan pinter ngomong soal agama, namun sebenarnya mereka itu buih”.

Buih itu mudah di ombang-ambingkan angina, dan tidak punya keyakinan yang dalam, contoh kecil nih, ada sms yang profokatif, dan ada pesan tambahan tolong sebarkan pada yang lain, ini begitu meracuni keyakinan mereka, sehingga dengan mudah mereka mengirim kesana-kemari, tanpa di cek dari sumbernya, pada akhirnya say abaca di Koran, bahwa sms itu adalah HOAK atau palsu mengatasnamakan lembaga Islam.

Kembali ke sholat jamaah, yang jadi masalah mereka memahami hadith ini:

6 - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا دَاوُدُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما - قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ذَاتَ لَيْلَةٍ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِرَأْسِى مِنْ وَرَائِى ، فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِينِهِ ، فَصَلَّى وَرَقَدَ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ ، فَقَامَ وَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ . أطرافه 117 ، 138 ، 183 ، 697 ، 698 ، 699 ، 728 ، 859 ، 992 ، 1198 ، 4569 ، 4570 ، 4571 ، 4572 ، 5919 ، 6215 ، 6316 ، 7452 - تحفة 6356

"Dari Ibnu Abbas, ia berkata ; "Aku pernah shalat bersama Nabi SAW pada suatu malam. Lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian Rosululloh SAW memegang kepalaku dari belakangku, lalu ia tempatkan aku disebelah kanannya."
(HR. Bukhari)
"Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata ; "Nabi SAW pernah berdiri shalat, kemudian aku datang, lalu aku berdiri disebelah kirinya, maka beliau memegang tanganku, lantas ia memutarkan aku sehingga ia menempatkan aku sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakr yang langsung ia berdiri di sebelah kiri Rosululloh SAW. Lalu beliau memegang tangan kami dan beliau mendorong kami sehingga beliau mendirikan kami dibelakangnya."
(HR. Muslim & Abu Dawud)
Orang sekarang sudah tak lagi mengakui imam Syafii. Maliki, Hambali dan Hanafi, masing-masing dah menganggap dirinya mujtahid mutlak, dan merumuskan tata cara sholat berjamaah yang baru.

Apa itu rumus mereka?

Sholat jamaah kalau Cuma dua orang laki-laki mereka memposisikan sejajar, dan ini bertolak belakan dengan konsepnya imam syafii, mereka menganggap tidak ada hadith yang harus menjadikan makmum mundur sedikit dari posisi kaki imam, dan memutuskan bahwa hadith diatas adalah sejajar.

Padahal pada hadith diatas tidak ada kata sejajar, yang ada adalah sebelah kanan imam, coba anda renungkan, apakah sebelah kanan itu pasti sejajar?

Sebenarnya Nabi bersabda : shollu kama roaitumuwni usholly
Sholatlah sebagaimana kalian melihat sholatku.

Para sahabat melihat nabi sholat, tentunya para imam-imam dahulu mengikutinya, loh sekarang orang yang tak pernah lihat sholatnya nabi kok bikin aturan sendiri, ini kan aneh.

Selama saya di Mesir, saya tahu orang Mesir kebanyakan juga suka memakai dalil langsung dalam berbagai halnya, namun tak pernah saya jumpai samapai separah orang Indonesia, di Mesir yang saya dengar adalah:

Sabqul imami harom, wa musawatuhu makruh, wa mutabaatuhu wajib

Mendahului imam haram hukumnya, menyamai imam makruh hukumnya, dan mengikuti imam wajib hukumnya.

Mendahului dalam hal apapun menjadikan sholatnya tidak sah dalam berjamaah, mendahului dalam posisi, dalam melakukan rukun sholat, akan menjadikan sholatnya tidak sah.

Sholat jamaah yang sesuai dengan nabi adalah posisi makmum sedikit ke belakang dibanding imam, agar ada kejelasan antara makmum dan imam, Jika hanya berdua, makmum seyogyanya berada disebelah kanan imam, namun jika tempat sholatnya tidak memungkinkan untuk disebelah kanan imam, tak harus begitu.

Posisi berjamaah tidak terbatas harus seperti itu, namun intinya tidak mendahului imamnya.

Demikian saya kira apa yang harus kami sampaikan, semoga ini sebagai sarana saya untuk bertanggungjawab atas keilmuan yang saya fahami, dan semoga Allah membebaskan saya dari orang-orang yang tidak bisa diberitahu.

Allim
Tangerang, Senin 21 Juni 2010
Masyarakatku mudah tertipu

Sejarah dan Asal Mula Kediri

TANGGAL 25 MARET 804 M DITETAPKAN  MENJADI HARI JADI KEDIRI
ImageNama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan".Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama "KEDI WRAKANTOLO".Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, "KEDI" berarti Suci atau Wadad. Disamping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi : " Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban", artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa ImageJawa Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang.Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceber, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo.Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, "Tanah Perdikan".Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri.Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur."Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo", sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri").Menurut bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan Imagebahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada ketiga prasasti. Alasannya Prasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi.Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M. Tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang.Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi " Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri.

al waqtu kassaif

Followers

 

Copyright © 2009 by sunday blogger

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger